Oleh: kkgbareng | 26 November 2009

Laporan Pertanggungjawaban Tahap I

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 1 dinyatakan bahwa Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya ditegaskan di dalam pasal 28 ayat 3 bahwa Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi Kompetensi pedagogik, Kompetensi kepribadian, Kompetensi professional, dan Kompetensi sosial.

Dalam rangka peningkatan kualifikasi dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, Pemerintah Indonesia beserta Pemerintah Belanda dan Bank Dunia menyepakati untuk bekerjasama dalam penyelenggaraan program BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading). Program ini difokuskan pada upaya peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Sumber pendanaan program berasal dari Pemerintah Belanda (melalui Dutch Trust Fund) dan Bank Dunia (pinjaman lunak melalui IDA Credit dan IBRD Loan), serta dana pendampingan yang berasal dari Pemerintah Pusat Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Balitbang Depdiknas dan Pemerintah Daerah.

Kelompok Kerja Guru Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng merupakan salah satu cluster yang ikut menyelenggarakan program BERMUTU dan mendapatkan Dana Bantuan Langsung Program BERMUTU. Pada saat ini kegiatan yang sudah dilaksanakan di KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng adalah kegiatan dalam upaya meningkatkan kompetensi profesional guru peserta secara kolaboratif melalui kajian pembelajaran yang komprehensif dan berkelanjutan menuju terciptanya komunitas belajar di sekolah dan di KKG. Pengkajian pembelajaran yang dimaksud adalah suatu pengkajian menggunakan pendekatan PTK (Penelitian Tindakan Kelas), Lesson Study dan Case Study.

Adapun tahapan pelaksanaan kegiatannya dimulai dari kajian pengajaran, identifikasi masalah, penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, pengumpulan dan analisis data, refleksi dan tindak lanjut, sampai dengan pelaporannya. Untuk memperkaya khasanah penelitian tindakan kelas, pendekatan kolaboratif dalam tahap perencanaan, pelaksanaan perbaikan pembelajaran, dan refleksi dalam model Lesson Study diintegrasikan ke dalam Belajar Model BERMUTU. Selain itu, digunakan juga teknik studi kasus (Case Study) sebagai alat untuk mengumpulkan data dalam observasi dan refleksi. Selain hal tersebut untuk mendukung dan memperlancar pelaksanaan dan pelaporan kegiatan program BERMUTU, peserta juga dibekali dengan keterampilan ICT.

Sebagaimana dalam proposal yang telah disepakati maka kegiatan KKG Gugus sekolah I Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang adalah meningkatkan professional guru melalui Classroom Action Research (Penelitian Tindakan Kelas) dengan menggunakan case study sebagai sarana mengidentifikasi masalah dan refleksi serta Lesson Study sebagai upaya meningkatkan wawasan dan pengetahuan guru terhadap berbagai macam model pembelajaran. Sehingga sangatlah tepat apabila kegiatan dalam KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng ini mengambil tema “Peningkatkan Professional Guru Melalui Classroom Action Research (CAR)”

B. Tujuan Program

Kegiatan peningkatkan professional guru melalui kegiatan Classroom Action Research di wilayah gugus sekolah I Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang melalui program BERMUTU ini mempunyai tujuan:

  1. Meningkatkan keterampilan guru untuk menulis Case Study sebagai upaya untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran yang kemudian dapat dipecahkan melalui Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research).
  2. Meningkatkan kemampuan membaca atau menganalisis bacaan secara kritis untuk mengasah kepekaan guru peserta dalam menangkap isi bacaan/artikel ilmiah.
  3. Meningkatkan kompetensi guru untuk dapat menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan melakukan penilaian autentik melalui kegiatan Lesson Study.
  4. Meningkatkan kemampuan guru untuk melakukan observasi pembelajaran dan dan diskusi refleksi terhadap masalah-masalah pembelajaran.
  5. Meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan ICT.

C. Hasil Yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan melalui kegiatan Program BERMUTU pada KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng adalah:

  1. Tersusunnya minimal satu buah Case Study untuk masing-masing peserta sebagai sarana untuk mengidentifikasi masalah.
  2. Tersusunnya minimal satu buah laporan kajian kritis untuk masing-masing peserta yang mengkaji artikel PTK.
  3. Terselesaikannya dua perangkat pembelajaran (kelas tematik dan kelas atas) meliputi RPP, media pembelajaran dan alat evaluasi yang disusun secara kolaboratif sebagai wujud pelaksanaan Lesson Study pada tahapan Plan.
  4. Terselesaikannya satu laporan observasi pembelajaran untuk masing-masing peserta.
  5. Meningkatnya kompetensi guru dalam memanfaatkan ICT dengan dibuktikan satu hasil powerpoint, dan satu e-mail untuk masing-masing peserta.

D. Sasaran

Yang menjadi sasaran kegiatan program BERMUTU pada KKG gugus Sekolah I Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang ini adalah guru-guru di wilayah Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng.

Sekolah Dasar yang menjadi anggota diwilayah gugus sekolah I Kecamatan Bareng adalah: SDN Bareng I-III (Sebagai SD Inti), dengan SD Imbas: SDN Bareng II, SDN Mojotengah I, SDN Mojotengah II, SDN Mundusewu I, SDN Mundusewu III, SDN Tebel I, SDN Tebel II, SDN Kebondalem I-II, dan SDN Kebondalem III.

Adapun jumlah peserta dalam kegiatan ini adalah 41 orang dengan penyebaran kelas I sampai dengan kelas VI secara merata.

BAB II

PELAKSANAAN PROGRAM

A. Tempat

Seluruh kegiatan KKG gugus sekolah I berpusat di SDN Bareng III yang beralamatkan di Jln.A.yani No 53 Bareng Jombang sebagai pusat kegiatan guru (PKG). Pemilihan tempat ini didasarkan pada pertimbangan bahwa SDN Bareng III sebagai SD Inti memiliki fasilitas gedung dan sarana yang memadai bagi terlaksananya kegiatan KKG.

B. Waktu

Kegiatan program BERMUTU pada KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng dimulai tanggal 22 Oktober 2009 dan berakhir tanggal 21 Nopember 2009. Adapun rincian kegiatannya adalah sebagai berikut:

No Tanggal Uraian Kegiatan Tempat Keterangan
1 22 Oktober 2009 In Servis Hari ke-1 SDN Bareng III Materi Kegiatan:KTSP, Model-model Pembelajaran, Perangkat Pembelajaran, Lesson Study,Case Study, PTK, dan Kajian Kritis
2 23 Oktober 2009 In Servis Hari ke-2 SDN Bareng III
3 24 Oktober 2009 In Servis Hari ke-3 SDN Bareng III
4 28 Oktober 2009 Pengenalan Pola BERMUTU SDN Bareng III Hasil Test:Pengertian PTK, Case Study, Lesson Study, dan hubungannya.
5 31 Oktober 2009 Identifikasi Masalah SDN Bareng III Hasil Kerja:Case Study dan Kajian Kritis
6 4 Nopember 2009 Perencanaan Tindakan SDN Bareng III Hasil Kerja:RPP Tematik dan Kelas V
7 11 Nopember 2009 Pelaksanaan Tindakan SDN Bareng III Hasil Kerja:Laporan ObservasiPembelajaran
8 12 Nopember 2009 Analisis dan Interpretasi SDN Bareng III Hasil Kerja:Portofolio Pengolahan Data
9 14 Nopember 2009 Refleksi dan Tindak Lanjut SDN Bareng III Hasil Kerja:Deskripsi hasil refleksi dan rencana tindak lanjut.
10 20 Nopember 2009 ICT 1 Lab Komputer SMAN 3 Jomb Hasil Kerja:Documen Word: Case StudyPower point : Pembelajaran
11 21 Nopember 2009 ICT 2 Lab Komputer SMAN 3 Jomb Hasil Kerja:E-mail pes

C. Kegiatan

Program BERMUTU yang dilaksanakan pada tahun 2009  diwilayah gugus sekolah I Kecamatan Bareng dengan SDN Bareng III sebagai SD Inti dan pusat kegiatan guru. Kegiatan tersebut dikelola akan dikelola sepenuhnya oleh kepengurusan KKG. Dalam melaksanakan tugasnya pengurus berpedoman pada AD/ART KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng dan persyaratan-persyaratan program terkait kerjasama antara KKG dengan LPMP dalam pemberian dana bantuan langsung.

Kegiatan sosialisasi dan workshop di gugus sekolah I Kecamatan Bareng menggunakan metode ceramah bervariasi, diskusi, dan tugas mandiri. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari Kegiatan Tersruktur dan Tugas Mandiri dengan Bahan Belajar Mandiri sebagai pedoman pelaksanaan bagi guru pemandu dan guru peserta. Semua kegiatan di KKG gugus sekolah I Kecamatan Bareng menggunakan prinsip pembelajaran orang dewasa. Pada akhir kegiatan masing-masing anggota KKG dapat menghasilkan 1 buah Case Study, kajian kritis, dan Laporan Observasi Pembelajaran.

Dalam kegiatan penulisan case study semua peserta antusias untuk menuliskan pengalamannya selama proses pembelajaran ke dalam bentuk narasi. Kebanyakan peserta menuliskan kalimat-kalimat yang memang diucapkan oleh siswa secara alamiah tanpa di edit, sehingga case study yang dihasilkan menarik untuk dibaca. (Case Study dapat di akses melalui http://kkgbareng.wordpress.com)

Pada kegiatan open class, sengaja direkam dengan kamera video sehingga tahapan-tahapan pembelajaran dan keaktifan siswa dapat diamati dan dikupas tuntas dalam proses diskusi refleksi (DVD Pembelajarannya ada pada lampiran)

Kegiatan ICT tidak dapat dilaksanakan di SDN Bareng III Kecamatan Bareng sebagai Pusat Kegiatan Guru karena keterbatasan fasilitas sarana laboratorium komputer sehingga kegiatan ICT dilaksanakan di SMA Negeri 3 Jombang.

D. Penggunaan Dana

Penggunaan dana program BERMUTU tahap 1 sebesar Rp 13.500.000,- (tiga belas juta lima ratus ribu rupiah) secara rinci dipergunakan sebagai berikut:

NO KEGIATAN VOL SATUAN SATUAN BIAYA JUMLAH
A Administrasi dan Managemen Organisasi
1 Alat Tulis Kantor 1 KKG Rp    400,000 Rp     400,000
2 Materai 12 lembar Rp        6,000 Rp       72,000
B Kegiatan In Servis
1 Spanduk Kegiatan 1 set Rp    120,000 Rp     120,000
2 ATK Peserta 41 Peserta Rp      20,000 Rp     820,000
3 ATK Fasilitator 1 orang Rp    150,000 Rp     150,000
4 Print out dan Jilid Materi In Servis 1 KKG Rp      77,000 Rp       77,000
5 Materi In Servis 41 Peserta Rp      23,000 Rp     943,000
6 Konsumsi Peserta 3×41 Peserta Rp      25,000 Rp  3,075,000
7 Transport Fasilitator 3 hari Rp      50,000 Rp     150,000
8 Uang Saku Fasilitator 3 hari Rp    150,000 Rp     450,000
9 Konsumsi Fasilitator 3 hari Rp      25,000 Rp       75,000
10 Foto Kegiatan 3×5 lembar Rp        5,000 Rp       75,000
C. Kegiatan Rutin
1 Print out master dan jilid materi Generik PTK 1 KKG Rp    110,600 Rp     110,600
2 Pengadaan Materi Generik PTK 41 Peserta Rp      31,400 Rp  1,287,400
3 Print out master dan jilid materi ICT 1 Peserta Rp    107,000 Rp     107,000
4 Pengadaan Materi ICT 41 Peserta Rp      30,500 Rp  1,250,500
5 Tranport Fasilitator 8 Hari Rp      50,000 Rp     400,000
6 Uang Saku Fasilitator 8 hari Rp    150,000 Rp  1,200,000
7 Konsumsi Fasilitator 8 hari Rp      25,000 Rp     200,000
8 Foto Kegiatan 8×5 lembar Rp        5,000 Rp     200,000
9 Shooting Kegiatan Open Class 1 hari Rp    500,000 Rp     500,000
10 Penggandaan DVD Open Class 12 set Rp      20,000 Rp     240,000
11 Sewa Laboratorium Komputer 2 hari Rp    500,000 Rp  1,000,000
12 Foto Copy Artikel untuk Kajian Kritis 41 Peserta Rp        3,000 Rp     123,000
13 Foto Copy RPP untuk Open Class 41 Peserta Rp        1,500 Rp       61,500
D Koordinasi, Publikasi, dan Pelaporan
1 Transport Koordinasi Ke LPMP 1 hari Rp    150,000 Rp     150,000
2 Transport Monitoring dan evaluasi 3 orang Rp      50,000 Rp     150,000
3 Pembuatan Blog (Word Press), Face book 1 KKG Rp              - Rp               -
Jumlah Pengeluaran DBL Tahap I Rp13,387,000

E. Masalah yang Di Hadapi

Permasalahan utama yang dihadapi dalam pelaksanaan program BERMUTU ini adalah keterbatasan waktu, sehingga peserta merasakan tugas mandiri dan tugas struktur sebagai beban yang memberatkan. Hal ini cukup dirasakan oleh peserta KKG karena tugas mereka di sekolah yang juga tidak sedikit, apalagi pada bulan Oktober dan Nopember 2009 merupakan pekan Ulangan Tengah Semester. Karena permasalahan ini tugas-tugas tersrtuktur yang dihasilkan pserta KKG menjadi kurang optimal.

Perbedaan kompetensi peserta juga menjadi permasalahan bagi guru pemandu untuk melaksanakan program kegiatan. Perbedaan tersebut meliputi perbedaan tingkat pendidikan, perbedaan kemampuan memanfaatkan ICT, dan perbedaan tingkat pemahaman guru terhadap PTK.

Keterbatasan sarana di SD Inti terkait dengan laboratorium komputer menjadikan kegiatan ICT tidak dapat dilaksanakan di SDN Bareng III sebagai Pusat Kegiatan Guru. Disamping itu SD Inti juga belum memiliki kamera video untuk merekam proses kegiatan KKG utamanya pada proses Open Class.

F. Upaya Pemecahan Masalah

Sampai saat ini belum ada solusi yang tepat untuk  mengatasi permasalahan keterbatasan waktu, pengurus KKG dan guru pemandu hanya dapat memberikan motivasi dan dorongan sehingga tugas-tugas mandiri dan terstruktur menjadi beban yang memberatkan peserta. Pengurus juga memberikan bimbingan dan bantuan pengetikan terhadap peserta yang belum menguasai penggunaan ICT dalam penyelesaian tugas-tugasnya.

Untuk mengatasi perbedaan kompetensi peserta KKG, pengurus  dan guru pemandu mengadakan matrikulasi pada tahap In Servis sehingga dapat mengurangi kesenjangan perbedaan pemahaman peserta terhadap PTK dan ICT.

Permasalahan keterbatasan sarana computer dan kamera video sampai saat ini hanya dapat diselesaikan dengan cara sewa, hal ini dilakukan oleh pengurus karena dua hal ini merupakan hal yang urgen dan benar-benar harus dilaksanakan.

BAB III

HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN

Pada kegiatan tahap I program BERMUTU di KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang yang sudah menghasilkan:

A. Case Study

Case study atau studi kasus  adalah rangkuman pengalaman pembelajaran (pengalaman mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran mereka di kelas. Pengalaman tersebut memberikan contoh nyata tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan pembelajaran. Gunanya adalah melalui pengkajian case study dalam pembelajaran dengan segala komponennya, para guru dapat melakukan evaluasi diri (self evalution), dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran mereka di kelas. Bagi para calon guru, kajian terhadap case study akan dapat membuka wawasan mereka terhadap pembelajaran dan menanamkan konsep bagaimana seharusnya pembelajaran itu berlangsung.

Dalam kegiatan ini setiap peserta KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng sudah menghasilkan minimal satu buah case study. Menulis pengalaman ke dalam bentuk case study merupakan pengalaman baru dan menyenangkan bagi guru peserta KKG, mereka dapat menuangkan perasaan kegembiraannya atas keberhasilan dalam pembelajaran ataupun pengalaman menyedihkan dalam pembelajaran. Dari case study yang disusun guru peserta tersebut guru peserta berlatih untuk mengidentifikasi masalah yang kemudian diangkat menjadi masalah dalam PTK.

B. Kajian Kritis

Kajian kritis merupakan kegiatan untuk memahami isi bacaan dengan menganalisis pokok pikiran setiap alinea/paragraf dan menangkap makna pesan yang terkandung dalam bacaan.

Dalam kegiatan ini peserta diberikan pilihan beberapa artikel PTK dan diberikan tugas untuk mengkaji isi artikel yang sudah dibaca. Hasil dari kegiatan in I adalah terselesaikannya laporan kajian kritis untuk masing-masing anggota 1 buah.

C. Perangkat Pembelajaran

Pada kegiatan perencanaan tindakan peserta di bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok tematik yang anggotanya adalah guru kelas I, II, III dan kelas atas yang anggotanya guru kelas IV, V, dan VI. Masing-masing kelompok melakukan kegiatan penyusunan perangkat pembelajaran yang meliputi penyusunan RPP, media pembelajaran dan alat evaluasi. Kegiatan ini dilakukan secara kolaboratif antara guru-guru dan pengawas TK/SD.

Hasil dari kegiatan ini adalah tersusunnya dua perangkat pembelajaran yang kemudian dipraktekkan oleh guru model dalam kegiatan open class.

D. Lembar Obervasi Pembelajaran

Pada kegiatan open class yang dilaksanakan pada tanggal 11 Nopember 2009, masing-masing peserta mengobservasi kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru model. Fokus dari kegiatan pengamatan ini adalah aktivitas siswa, tetapi hal itu tidak mungkin terlepas dari kegiatan yang dilakukan oleh guru.

Hasil kegiatan ini adalah terselesaikannya laporan observasi pembelajaran tiap peserta satu laporan.

E. Porto Folio Peserta

Selain hal diatas dalam setiap pertemuan terdapat lembar kerja peserta untuk mengarahkan kepada ketercapaian tujuan pembelajaran. Lembar kerja ini disusun dalam satu dokumen portofolio peserta. Hasil dari kegiatan ini adalah portofolio peserta KKG.

BAB IV

RANGKUMAN HASIL EVALUASI MANDIRI

A. Deskripsi Sebelum dilaksanakan Program BERMUTU

Sebelum pelaksanaan program BERMUTU secara umum guru-guru di wilayah gugus sekolah I Kecamatan Bareng kurang memahami prosedur penelitian tindakan kelas, hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian awal kami bahwa 91 dari 101 (90%) guru  di wilayah KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng belum dapat menyusun Penelitian Tindakan Kelas. Bahkan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dialami guru dalam proses pembelajaran saja guru-guru di wilayah gugus sekolah I Kecamatan Bareng masih merasa kesulitan.

Berdasarkan data evaluasi awal didapatkan informasi bahwa selama ini guru-guru enggan untuk memanfaatkan komputer dalam melaksanakan tugasnya meskipun di sekolah sudah ada perangkat komputer, hal ini disebabkan karena mereka tidak bisa mengoperasikan komputer dan ada perasaan takut apabila komputer digunakan akan rusak.

Minat guru untuk mencari dan membaca artikel-artikel yang berkaitan dengan pembelajaran sangat kurang sehingga buku-buku tentang pembelajaran di sekolah hamper tidak tersentuh.

B. Evaluasi Mandiri Setelah Pelaksanaan Program BERMUTU

Setelah dilaksanakannya program BERMUTU, guru-guru di wilayah gugus sekolah I Kecamatan Bareng merasa termotivasi untuk memperbaiki pembelajarannya dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kegiatan mereka diawali dengan menulis case study sebagai pijakan awal dalam mengidentifikasi masalah pembelajaran. Menurut beberapa Kepala Sekolah motivasi guru-guru utamanya sasaran program BERMUTU untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya sangat tinggi. Bahkan Pengawas TK/SD juga dapat menilai perkembangan kreativitas dan pola berpikir guru-guru dengan adanya program BERMUTU.

Di sekolah-sekolah wilayah gugus sekolah I Kecamatan Bareng ada upaya mengubah model pembelajarannya dari konvensional menjadi PAKEM. Paradigma pembelajaran behavioristik mulai ditinggalkan, guru-guru mulai melaksanakan pembelajaran yang kontruktivisme. Ini disebabkan karena pengetahuan dan pemahaman mereka tentang metode-metode pembelajaran yang terus bertambah dengan adanya program BERMUTU.

Dengan dikenalkannya ICT dan melalui beberapa latihan mengoperasikan komputer terdapat perubahan yang cukup signifikan, guru-guru yang sebelumnya takut dan enggan menggunakan komputer mulai ada kemauan dan keberanian untuk mengoperasikan komputer.  Mereka terlihat mengerjakan tugas-tugas dalam program BERMUTU dengan mengetik sendiri. Meskipun hasilnya kerjanya tampak belum baik misalnya penataan paragraf dan spasi, namun hal ini merupakan perkembangan yang positif dalam pemanfaatan komputer.

Buku-buku tentang pembelajaran yang sebelumnya hanya tersimpan mulai diminati dan dibaca oleh guru, hal ini terkait dengan tugas mencari model-model pembelajaran dan media pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Secara umum hasil evaluasi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah terhadap peningkatan kompetensi guru dengan adanya Program BERMUTU menyatakan bahwa program BERMUTU dapat meningkatkan motivasi dan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran.

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Dari paparan yang sudah diuraikan dalam bab sebelumnya dapat disimpulkan:

  1. Pelaksanaan program BERMUTU di Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng sudah sesuai dengan program BERMUTU.
  2. Dana Bantuan Langsung Program BERMUTU dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng bagi peningkatan kompetensi guru khususnya dalam menyusun Case Study melaksanakan Lesson Study berbasis KKG, dan Penelitian Tindakan Kelas.
  3. Hasil yang diharapkan dalam program BERMUTU di gugus sekolah I Kecamatan Bareng yaitu 1 buah Case Study untuk masing-masing peserta, 1 buah kajian kritis untuk masing-masing peserta, dan 1 buah laporan observasi pembelajaran dapat tercapai. (Case Study dapat diakses melalui http://kkgbareng.wordpress.com)
  4. Dengan program bermutu ada perubahan yang cukup signifikan terhadap cara mengajar guru, dari konvensional menjadi PAKEM.

B. Rekomendasi

Dengan melihat dampak yang sangat positif dengan adanya program BERMUTU di gugus sekolah I Kecamatan Bareng maka kami mohon kiranya pihak LPMP melanjutkan pemberian Dana Bantuan Langsung pada tahap ke-2, sehingga harapan kami agar seluruh peserta program dapat menyusun PTK dapat kami wujudkan.

Oleh: kkgbareng | 26 November 2009

Case Study: Meyta Sapta Wardani

KEBINGUNGAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN

Oleh : Meita Sapta Wardani

Pagi itu, saya masuk kelas dengan suasana hati senang dan bersemangat, saya masuk kelas dengan membawa RPP tentunya dan membawa harapan besar semoga pertemuan hari ini anak-anak mengerti materi yang akan saya berikan. Saya mengajar kelas I SD. Materi yang akan saya ajarkan hari itu adalah penulisan huruf, kata, dan kalimat. Seperti biasanya saya masuk kelas dan menyapa anak-anak dengan mengucapkan salam Assalamualaikum Warohmatillohi Wabarokatuh. Kami lanjutkan dengan berdoa bersama, membaca Pancasila, dan saya lanjutkan dengan mengabsen kehadiran siswa. Selesai mengabsen saya menyiapkan bahan yang saya ajarkan, mulailah anak-anak bereaksi ada yang mengeluarkan buku tulis dan pensil, ada yang masih terlihat santai, dan ada juga anak yang malas-malasan. Beberapa diantara mereka bertanya “Bu nulis tah?”, “Akeh tah bu?”, Ayo bu aku selak pengen nulis”. (dalam bahasa jawa). Saya senang dengan semangat yang mereka miliki, sama dengan semangat saya hari itu untuk mengajar. Tetapi tiba-tiba Kiki ngomong “Bu mbak Laili gak gelem nulis” (bahasa jawa). Saya mendekati bangku Laili dan Kiki. Saya bertanya kepada Laili “kenapa tidak mau menulis? Ayo nulis nanti kalau tidak mau nulis tidak pintar-pintar lo! Sampean pengen pintar kan? Laili hanya diam. Ato kalau tidak mau nulis saya bilangkan ke ibunya lo? Tiba-tiba Laili menjawab dan jawabannya membuat saya tertawa di dalam hati. “hallah bu guru gak eruh omahku ae!” Saya coba bujuk Laili agar mau menulis dan saya kembali menanyakan kenapa dia tidak mau menulis. Ternyata pensil Laili tumpul. “Oh pensilnya tumpul to”. Hal ini tidak membuat saya bingung karena saya sudah mengantisipasi kejadian ini, saya memiliki banyak pensil jaga-jaga bila ada siswa saya yang mengalami hal ini seperti Laili mereka bisa meminjam pensil saya tanpa mengurangi jam belajar mereka karena habis untuk meraut pensil.

Sebelum melanjutkan materi saya cek dahulu kesiapan anak-anak. Dan untuk mengkondusifkan keadaan saya berbicara keras, “Ayo anak-anak diam, tangan diangkat, kemuka, dilipat, ya bagus!” “Mata ke depan mulut dikunci cekrek-cekrek!” anak-anak kelas satu sudah mengerti kebiasaan saya untuk memfokuskan perhatian mereka. Mulailah saya menulis dipapan tulis, nah anak-anak perhatikan bu guru”. Saya menulis dipapan tulis beberapa kalimat. Sambil menulis saya mengingatkan anak-anak, untuk menulis huruf “g, y, j, p”, jangan lupa huruf “g, y, p, dan j” gandol, melewati garis. Belum sampai penuh saya menulis di papan anak-anak mulai gaduh, saling bertanya “yoopo se huruf gandol itu?” Saya yang mendengar kesulitan mereka saya minta anak-anak memperhatikan saya sebentar. “coba perhatikan bu guru sebentar, pensilnya diletakkan semua ga ada yang boleh menulis dulu”, saya menulis beberapa huruf g, y, j, dan p saja secara terpisah kemudian meminta anak-anak menulis kembali. Kemudian saya mengecek tulisan anak-anak. Apakah tulisannya sudah benar apa belum. Mulailah saya berkeliling dari bangku depan satu per satu dengan telaten cek dan ajari anak-anak hingga bangku terakhir. Tetapi apa yang terjadi? Sebagaian  besar anak-anak belum bisa menuliskan huruf “g” dengan benar.

Tak terasa bel istirahat berbunyi. Saya bingung dan dalam hati saya berkata “opo’o se anak-anak kok gak iso nulis sing bener, kok angel diterangno!”. Sambil berjalan menuju kantor saya berangan-angan. Apa yang harus saya lakukan agar anak-anak dapat menulis dengan baik dan benar. Sepulang dari mengajar saya masih bingung karena belum menemukan jalan keluar. Pada sore hari saya berfikir dan menemukan cara. Saya akan gunakan metode pemberian tugas dan latihan saja. Standar memang semua guru memberikan tugas dan latihan setiap selesai mengajar. Tapi dalam angan-angan saya metode inilah yang pas untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Karena yang menjadi pemasalahan adalah menulis jadi satu-satunya jalan ya disuruh banyak menulis. Setelah saya fikir kemudian saya tuangkan ide saya ke dalam Rencana Pembelajaran. Keesokan harinya saya masuk kelas, seperti biasanya saya lakukan apersepsi, berdoa, membacakan pancasila dan pada kegiatan ini, saya member tugas kepada anak-anak untuk menulis, menirukan apa yang saya tulis. Terus….terus….dan terus… Anak-anak saya beri latihan. Dan alhamdulillah ternyata cara saya berhasil. Anak-anak yang semula menulis tidak beraturan dengan cara lebih banyak memberikan tugas dan latihan anak-anak mampu menulis dengan baik dan benar. Lega rasanya melihat anak-anak didik saya mampu menulis dengan baik dan benar.

Oleh: kkgbareng | 26 November 2009

Case Study : Anjar winarni

BELAJAR ITU MENYENANGKAN KOK !

Oleh : Anjar Winarni,A.Ma

Saya adalah seorang guru sukwan di SDN Bareng I, saya mengajar sudah hampir 4tahun dan ternyata pekerjaan seorang guru itu tidak mudah butuh kesabaran dan pemikiran tersendiri. Di tahun ajaran baru ini saya mengajar di kelas 3 yang jumlah siswanya jauh lebih banyak dibanding dengan tahun sebelumnya karakter siswanya pun jauh berbeda, butuh perhatian khusus dari saya karena di kelas saya ini rata-rata siswanya suka bermain dan berbicara sendiri saat pelajaran berlangsung.

Pagi itu tanggal 10 September 2009 hari kamis jam pertamaku mengajar adalah pelajaran IPA, saya masuk kelas dengan harapan besar anak-anak mengerti dan memahami materi yang akan saya sampaikan, kompetensi dasar yang akan saya sampaikan hari ini adalah memahami sifat-sifat benda padat, cair, dan gas. Saya memulai pelajaran dengan berdoa bersama-sama kemudian tak lupa saya mengabsen anak-anak terlebih dahulu setelah itu menyampaikan tujuan pembelajaran.

Saya bertanya pada anak-anak “ Apakah tadi malam kalian belajar IPA?” kemudian anak-anak menjawab “ sudah “ tapi ada juga yang menjawab “ belum bu tadi malam lampunya mati “, yang menjawab sudah saya coba dengan beberapa pertanyaan “ sebutkan 1 contoh benda padat? “ tapi tak satu siswa pun yang menjawab mereka hanya diam tak bergeming. Kemudian saya membagi mereka dalam beberapa kelompok, menyuruh mereka untuk membaca buku IPA tentang sifat benda padat, cair, dan gas, dengan rasa takut mereka mencoba melakukan apa yang saya perintahkan. Setelah itu saya kembali bertanya pada salah satu siswa dalam kelompok tapi tetap tidak satu pun yang menjawab.

Tak terasa 1 jam telah berlalu dengan tidak menghasilkan apa-apa, dengan sedikit emosi, sedih dan bingung saya menuju kantor kemudian saya terdiam dan mencoba berfikir bagaimana menghadapi masalah dengan anak-anak hari ini. Dalam diam saya berfikir, tak lama saya menemukan ide untuk mengatasi masalah-masalah itu.

Di hari dan waktu yang berbeda, saya mencoba menerapkan ide yang telah ada. Pagi itu saya masuk kelas dengan wajah yang ceria, seperti biasanya saya melakukan kegiatan sebelum pelajarn dimulai dan membuat kesepakatan dengan siswa “ siapa yang tidak ikut berfikir dalam kegiatan ini tidak akan mendapat nilai “ kemudian membagi siswa dalam beberapa kelompok setelah itu saya membagikan pada masing-masing kelompok beberapa benda seperti : buku, pensil, batu, kecap, gelas, air dalam botol, botol kosong dan lembar evaluasi yang harus diisi masing-masing kelompok. Salah satu anak bertanya pada saya “ Bu ini mau diapakan? “ kemudian saya menjelaskan tujuan saya membagikan benda-benda tersebut dan menyuruh siswa untuk menggolongkan benda tersebut sesuai sifatnya dan menuliskan hasilnya pada lembar evaluasi. Setelah itu wakil dari kelompok membacakan hasil dari pengamatan tersebut di depan kelas.

Saya tutup pelajaran ini dengan menyampaikan kesimpulan dari kegiatan yang telah kita lakukan, sya puas dan sangat senang pelajaran hari ini baerjalan dengan lancer, anak-anak juga sangat aktif dalam kerja kelompok hari ini siswa pun mengerti dan memahami sifat masing-masing benda.

Oleh: kkgbareng | 25 November 2009

Data Pengurus

DATA PENGURUS KKG SE KABUPATEN JOMBANG

GUGUS SEKOLAH I KECAMATAN BARENG

NO GUGUS SEKOLAH I NAMA NIP UNIT KERJA PANGKAT/GOL.
1 Ketua KKG Heri Purwanto, S.Pd. 132 180 063 SDN Bareng II Penata , III/C
2 Ketua Gugus Ismadi, S.Pd. 130 495 413 SDN Bareng III Pembina , IV/A
3 Guru Pemandu Agama Abdul Wahib , A.Ma.Ag. 131 085 014 SDN Mojotengah II Penata , III/C
4 Guru Pemandu PKn Sesulih Purwikaningsih, S.Pd. 131 189 654 SDN Bareng II Pembina , IV/A
5 Guru Pemandu Bahasa Indonesia Purwokanti, S.Pd. 131 352 830 SDN Bareng II Penata TK.I , III/D
6 Guru Pemandu Matematika Heri Purwanto, S.Pd. 132 180 063 SDN Bareng II Penata , III/C
7 Guru Pemandu IPA Hayatul Mustafid, S.Pd. 132 217 113 SDN Mundusewu III Penata Muda TK.I , III/B
8 Guru Pemandu IPS Agus Marhanto, S.Pd. 132 285 973 SDN Bareng III Pengatur TK.I , II/D
9 Guru Pemandu Seni Buket Agus Purwanto, S.Pd. 131 036 468 SDN Mojotengah I Pembina , IV/A
10 Guru Pemandu Penjas Orkes Suyitno, S.Pd. 131 329 636 SDN Tebel I Pembina , IV/A
11 Guru Pemandu Bahasa Jawa Binti Zuaimah, A.Ma.Pd. 130 495 511 SDN Mundusewu I Pembina , IV/A
12 Guru Pemandu Bahasa Inggris Nunuk Fitriyah, S.Pd. 510 207 041 SDN Kebondalem I Pengatur Muda , II/A
13

 

Guru Pemandu Tematik:
Kelas I Hartinah, A.Ma.Pd. 131 036 558 SDN Bareng III Pembina , IV/A
Kelas II Umayati, S.Pd. 132 286 357 SDN Kebondalem I Pengatur , II/C
Kelas III Muflikah, S.PAI 198103022009012003 SDN Kebondalem III Pengatur TK.I , II/B

Bareng , 8 September 2009

Ketua KKG,

HERI PURWANTO, S.Pd.

NIP. 132 180 063

Oleh: kkgbareng | 25 November 2009

Undangan Kegiatan KKG

Kegiatan KKG Bareng

Oleh Heri Purwanto, S.Pd.

Diberitahukan kepada peserta Program Bermutu KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, bahwa kegiatan KKG akan dilaksanakan pada:

Hari           : Sabtu

Tanggal     : 5 Desember 2009

Waktu       : 07.30 – selesai

Tempat     : SDN Bareng III Kecamatan Bareng

Acara         : KKG Pertemuan ke-9

Sehubungan dengan acara tersebut dimohon seluruh peserta sudah membawa draft proposal PTK.

Draft tersebut dapat ditulis tangan atau diketik.

Bareng, 25 Nopember 2009

Ketua KKG,

Heri Purwanto, S.Pd.

Oleh: kkgbareng | 21 November 2009

PGRI Cabang Bareng Eksis!

PGRI BARENG EKSIS
by : Heri Purwanto, S.Pd.

Dalam rangka HUT Ke-64 PGRI dan memperingati Hari Guru Nasional, PC PGRI Kecamatan Bareng yang di komandani ASTHO PRAYITNO,S.Pd membuat kegiatan yang melibatkan seluruh anggotanya. Kegiatan tersebut adalah Jalan Sehat.

Upaya ini merupakan hal positif yang dapat meningkatkan kepedulian anggota terhadap PGRI sebagai organisasi profesi.

Kegiatan ini akan dilaksanakan tanggal 25 Nopember 2009 dengan start dan finish Kantor UPTD Pendidikan Kecamatan Bareng. Ketika proposal tentang kegiatan ini disampaikan kepada Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Bareng Drs. Wiyanto,MM, beliau berkomentar, “Bagus mas! Yo ngunu rek ben ketok kegiatane!”. Komentar itu disambut dengan tawa khas ketua PGRI Kecamatan Bareng.

Semoga PGRI Kecamatan Bareng tetap Jaya!

Oleh: kkgbareng | 21 November 2009

Perkakas ‹ Kkgbareng’s Blog — WordPress

Perkakas ‹ Kkgbareng’s Blog — WordPress.

Oleh: kkgbareng | 21 November 2009

Ada-ada Saja!

ADA – ADA SAJA !
By: Adi Sihwoyo

Setelah menjalani libur sekitar hari raya idil fitri 1430 H. Pagi itu saya telah siap mengajar di kelas IV. Mata Pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dengan materi “MenghargaiKeragaman Suku Bangsa dan Budaya setempat”. Semua perangkat pembelajaran telah Saya persiapkan mulai dari RPP , LKS, media dan alat peraga serta lembar evaluasinya.
“Selamat pagi anak anak, pagi ini pelajaran kita adalah IPS, karena itu keluarkan buku IPS”, perintah saya untuk mengawali pelajaran.

Pada kegiatan awal, saya menyampaikan apersepsi dengan mengingat kembali tentang apa yang dilakukan oleh para siswa ketika setelah sholat hari raya Idul fitri. Ku tanya mereka “ Apa yang kalian lakukan setelah sholat Id ?” Serentak anak – anak menjawab “ riyayan Pak ! salam – salaman ambek tangga” (dalam bahasa jawa) yang artinya adalah “ Berlebaran, bersalam – salaman (berjabat tangan) dengan tetangga. Aku lanjutkan pertanyaanku termasuk apa kegiatan itu ? ada yang menjawab budaya Pak ! segera kutimpali benar ! benar… ! sekali lagi jawaban temanmu itu benar ! tepuk tangan untuk dia ! perintahku ! (“Seluruh siswa bertepuk tangan memberikan penghargaan pada teman mereka)”.
Kujelaskan dengan suara yang tegas dan mantap bahwa lebaran itu adalah budaya yang ada di Indonesia di negara lain tidak ada dan karena itu bersifat baik maka perlu kita lestarikan . Bagaiman setuju ? ( setuju . . . jawab siswa secara klasikal . Sekali lagi aku minta mereka untuk bertepuk tangan atas pernyataan dan penghargaan terhadap budaya Riyayan / atau lebaran ).
Disela –sela tepukan tangan mereka ada salah satu siswi yang nyelethuk itu pak Robi, anu pak. . . . Rambutnya disemir merah ! apa ? tanyaku pada Zidatur. Iya Pak rambut Robi disemir merah. Puji juga kata Hesti. Pujipun merasa namanya disebut dia langsung berkata Bagus juga pak. Mereka semua kupanggil ke depan kelas untuk saya lihat rambutnya benar disemir apa tidak. Ternyata benar kata anak – anak, ketiganya rambutnya disemir merah didepan, samping dan atas.

Sebenarnya saya ingin hukum mereka, tetapi karena saya telah mendapatkan pembekalan megenai sekolah ramah anak (SRA) maka kutahan amarahku. Ku tanya mereka mengapa rambutnya disemir ? apa orang tua kalian tahu ? apa orang tuamu tidak melarangmu ? mereka bertiga hanya terdiam.

Saat itu juga aku ingat bahwa rambutku juga telah beruban, kebetulan yang beruban hanya bagian depan saja, jadi seperti disemir. Dalam hati aku bertanya apa mereka kira saya menyemir rambut sehingga menjadi putih sebagian? Kebetulan saat itu juga ada Bu Yuli Kartikasari yang sedang melintas di depan kelas, segera ku panggil beliau Bu Tolong ke sini …! Kutanya beliaunya “ Apa rambut saya ini saya semir atau asli uban ? Beliau menjawab “ Asli rek iku uwan “ (dalam bahasa Jawa) yang artinya “asli itu uban “
“O..ancene ndablek cilik – cilik rambute disemir” kata Bu Yuli sambil meninggalkan ruang kelas IV. Kutanya lagi mereka apa kalian sudah tahu kalau rambut P. Adi ini asli uban tidak disemir? Apa bisa rambut merah mereka kembali menjadi hitam tanpa dipotong gundul ? “ Di semir hitam pak .” Baiklah kalau begitu besok harus sudah berwarna hitam lagi. Silahkan disemir hitam. Sambil sedikit ku jewer tapi tidak keras sebagai bentuk punishmen di hadapan teman – teman mereka, ku suruh mereka bertiga kembali duduk.

Ku sampaikan himbauan pada seluruh siswa untuk tridak meniru – atau melakukan perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah.
Kegiatan saya lanjutkan dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan membuat kesepakatan tentang kegiatan yang akan dilakukan
Menuju pada kegiatan inti saya menjelaskan hal – hal yang harus dikerjakan secara kelompok, Siswa berdiskusi mempresentasikan hasil diskusi mereka, lalu melakukan diskusi secara klasikal dengan saya pandu, “Bagaimana anak anak? Apakah kalian sudah mengerti ?” tanya saya setelah selesai menjelaskan dan memberikan penguatan.“Baiklah, jika tidak ada yang bertanya berarti mengerti semua. Sekarang kita lanjutkan dengan diskusi kelompok untuk mengerjakan soal sesuai kesepakatan ini”.

LKS dibagikan pada tiap ketua kelompok yang terdiri 3 kelompok. Tiap kelompok beranggotakan 5 anak. kegiatan diskusi berjalan kurang lancar. Meskipun saya sudah membantu untuk berdiskusi, tetapi mereka tetap sulit melaksanakan tugas diskusi. Kegiatan diskusi di Kelompok 2 dan 3 tidak bisa berjalan karena LKS yang dikerjakan ketua kelompoknya , sedang anggota kelompok yang lain hanya menuggu hasilnya.

Waktu diskusi habis, ketua tiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas. Setelah dibahas bersama ternyata tidak ada kelompok yang benar semua. Kelompok 2 dan 3 hanya betul 3 nomor. Kelompok 1 benar 1 nomor.
“Katanya tadi sudah jelas , paham dan mengerti, tapi mengapa hasil diskusi kalian seperti ini ?” tanya saya dengan nada penuh kekesalan..
“Di buku hanya ada 2 , Pak!” jawab anggota kelompok 1 serentak .
“Dicari dibuku lain, kata kelompok 2 dan 3 , Pak!” tapi PR saja.
Akhirnya saya menjelaskan kembali cara mencari jawaban dari pertanyaan LKS dan meminta mereka mengerjakan di rumah sebagai PR.

Ku akhiri dengan evaluasi lisan . hasilnya malah jauh dari harapan dari 16 siswa hanya ada 4 siswa yang dapat dengan benar menunjukkan budaya asli Jombang, 3 Siswa yang dapat menjawab dengan benar seni tradisional asli Jombang.

Kurefleksi mengapa begini minat siswa terhadap budaya asli? Pengetahuan dan minat anak – anak terhadap budaya daerah asli Indonesia rendah ! mengapa ? Mengapa anak – anak lebih tertarik menyemir rambut sebagai bentuk budaya punk ?

Oleh: kkgbareng | 21 November 2009

Diklat ICT

KKG Gugus Sekolah I Kecamatan Bareng mengadakan Diklat ICT di SMA Negeri 3 Jombang.

Tanggal 22 Nopember 2009

Dalam Diklat tersebut menghadirkan instruktur ICT dari STKIP PGRI Jombang.
Moga Sukses!!!!!

Oleh: kkgbareng | 17 November 2009

Case Study By Purwokanti

Ayo Bermain Anak-anakku!

By: Purwokanti, S.Pd.

Melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia merupakan tantangan tersendiri bagiku sebagai guru kelas II, ini dikarenakan siswa-siswaku masih dekat dengan bahasa Ibu dan menggunakan bahasa Ibu dalam proses belajar di kelas. “Bu, mboten saget nggarap lho bu”, “Aras-arasen lho bu”, “kula tak ngongoti potlot nggih bu” bahasa komunikasi itu taka sing lagi bagiku. Ingin aku merubahnya, tapi dari mana aku harus memulainya?

Pada hari itu, kamis tanggal 26 Maret 2009 aku bersemangat untuk melakukan pembelajaran bahasa Indonesia, aku mengajarkan aspek berbicara pada kompetensi dasar 2.2 menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang lain.

Aku memulai pelajaran dengan melakukan apersepsi, menyampaikan tujuan pembelajaran, membuat kesepakatan dalam proses pembelajaran. Semua rangkaian kegiatan awal pembelajaran kulalui dengan baik sampai akhirnya masuk pada kegiatan inti. Ketika aku melatih anak-anak untuk berbicara menceritakan kegiatan sehari-hari, anak-anak terdiam. Suasana hening, tenang, tak ada suarapun terlempar dari mulut mereka apalagi senyuman. Anak-anak seperti alergi ketika aku menyuruh mereka maju kedepan dan menceritakan tentang kegiatan sehari-hari. “Mboten saget lho bu” Kata Fandi. Aku menarik tangan Fandi fandi pun menarik tangannya, sampai akhirnya kesunyian pecah dengan suara tangisnya. Anak-anak lainnya pun takut kalau-kalau aku juga menyuruhnya maju.

Hari ini aku mengakhiri pembelajaranku dengan perasaan kecewa, hatiku gundah ada rasa bersalah menginggapi perasaanku. Mengapa kelasku menjadi neraka bagi anak-anakku. Perasaanku terbawa sampai aku di rumah, aku malas makan. Fan, maafkan aku ya! Gumamku dalam hati. Aku beranjak kehalaman depan, aku duduk termenung mengingat kejadian hari ini. Aku teringat anakku yang sekarang duduk di SMA Kelas I. Aku membayangkan bagaimana jika Diana juga mengalami hal yang sama dengan Fandi.

Lamunanku akhirnya pecah dengan suara dan tawa anak-anak yang sedang berkejar-kejaran, mereka asyik bermain di depan rumahku. Mereka terlihat senang banget. Kenapa ya pada saat mereka sekolah tidak seperti ini, kenapa minat mereka rendah. Aku pun seperti mendapat inspirasi dari permainan mereka. Aku akan mengubah kelasku menjadi surga bagi mereka! , Aku akan mengajak anak-anakku bermain. Ayo bermain anak-anakku! Yes, yes, yes! Aku teriak sambil mengepal tanganku. “Lanapa bu pur?” Tanya tetanggaku yang kebetulan lewat. Akupun menjawab dengan rasa malu sambil tersenyum, “Mboten napa-napa bu.”. Akupun segera masuk rumah dan makan.

Pagi itu 30 Maret 2009, aku berangkat dengan perasaan senang. Ada semangat untuk bertemu anak-anak dan bersama-sama belajar bahas. Ayo bermain anak-anakku! Kataku dalam hati.

Aku memulai pembelajaran bahasa Indonesia, sebagaimana biasa aku lalui kegiatan inti dengan menanyakan kegiatan sehari-hari yang pernah dilakukan siswa. Akhirnya akupun masuk pada kegiatan inti, anak-anak mulai demam dan tak berminat. Akupun berkata pada mereka, “Anak-anak pagi ini ibu akan mengajak kamu untuk bermain!”. “Hore !, Asyiiiik!” Suara kelaspun pecah dengan teriak kegembiraan mereka.

Aku tersenyum melihat kegembiraan dan senyum menghiasi bibir mereka yang masih lugu. Akupun memulai permainan dalam pembelajaran. Permainan ini aku sebut dengan nama permainan “regu tembak”. Anak-anak aku minta kedepan dan berderet dengan posisi berhadap-hadapan. Aku mulai memberitahu aturan permainannya, ada dua pistol aku berikan pada mereka. Kemudian mereka menyanyikan lagu bersama-sama sambil memutar pistol. Pada saat ada aba-aba “dor” atau lagu berhenti siswa yang memegang pistol menembak teman sesuai dengan keinginannya lalu menunjukkan gambar kegiatan sehari-hari yang sudah kubagikan sebelumnya. Dengan senang hati anak yang ditembakpun membuat kalimat. Aku tersenyum melihat mereka bersemangat, ada rasa bangga karena aku sudah memulai langkah mengubah kelasku menjadi surge bagi anak-anakku.

Aku mengakhiri pelajaran dengan perasaan lega. “Bu, besok bermain lagi ya”, anak lain pun melontarkan pertanyaan, “Kok cepet selesai se bu?”. Aku pulang dengan perasaan gembira, masih terngiang tawa mereka dan semangat untuk dapat menceritakan kegiatan sehari-hari sesuai gambar.

Terima Kasih Anak-anakku Kaulah Pelipur Hatiku!

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.